Uptech

Ekspansi Panel Surya di China Turunkan Keanekaragaman Burung, Peneliti Soroti “Green Dilemma”

newspaper

Kliksimas

Redaksi

calendar_today 11 September 2026
visibility 4 kali dilihat
Ekspansi Panel Surya di China Turunkan Keanekaragaman Burung, Peneliti Soroti “Green Dilemma”

Kliksimas.com - Perluasan energi surya menjadi salah satu langkah penting China dalam mengurangi emisi karbon dan mempercepat transisi menuju energi bersih. Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan pada 20 Agustus 2026 dalam jurnal Science menunjukkan bahwa pembangunan panel surya dalam skala besar juga dapat menimbulkan dampak terhadap ekosistem.

Penelitian tersebut menemukan adanya hubungan antara semakin kuatnya kebijakan yang mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dengan menurunnya keanekaragaman burung di sejumlah wilayah China.

Temuan ini kemudian memunculkan istilah “green dilemma”, yaitu kondisi ketika sebuah kebijakan yang bertujuan memberikan manfaat bagi lingkungan, seperti pengurangan emisi karbon, justru dapat menciptakan tekanan baru terhadap ekosistem.

Peneliti menekankan bahwa temuan tersebut bukan berarti pembangunan energi terbarukan harus dihentikan. Sebaliknya, ekspansi energi bersih perlu dilakukan dengan perencanaan yang lebih matang agar manfaat terhadap iklim tidak harus dibayar dengan kerusakan habitat.

Dampak Pembangunan Panel Surya terhadap Burung

Tim peneliti menganalisis data dari 2.344 kabupaten di China selama 2014–2023. Data tersebut kemudian dikaitkan dengan kebijakan energi, kondisi iklim, faktor ekonomi, perubahan penggunaan lahan, serta hasil pengamatan terhadap populasi burung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak terhadap keanekaragaman burung lebih terlihat di wilayah makmur dan non-gurun.

Salah satu penyebab yang menjadi perhatian adalah perubahan fungsi lahan. Area yang sebelumnya digunakan sebagai lahan pertanian atau padang rumput dapat berubah menjadi lokasi instalasi panel surya. Perubahan tersebut berpotensi mengurangi atau mengubah habitat yang sebelumnya digunakan berbagai spesies burung.

Dampaknya tidak hanya terlihat pada burung yang menetap. Spesies burung migrasi juga menunjukkan penurunan, sementara spesies pegunungan yang berada di wilayah yang kurang sesuai untuk pembangunan panel surya relatif tidak terdampak.

Temuan ini memperlihatkan bahwa dampak energi surya terhadap biodiversitas sangat bergantung pada di mana proyek tersebut dibangun.

Lahan Hijau Bertambah, tetapi Belum Tentu Lebih Baik

Penelitian juga memberikan perhatian terhadap peningkatan tutupan vegetasi di sejumlah wilayah yang mengalami pembangunan energi surya.

Secara sederhana, bertambahnya area hijau dapat terlihat sebagai perkembangan positif bagi lingkungan. Namun, kondisi tersebut belum tentu menunjukkan bahwa kualitas ekosistem ikut meningkat.

Vegetasi yang semakin luas tetapi terlalu homogen dapat menyebabkan kualitas ekologis justru menurun.

Hal ini terjadi karena ekosistem yang sehat membutuhkan keberagaman jenis tanaman dan habitat. Vegetasi yang seragam mungkin meningkatkan luas area hijau, tetapi belum tentu mampu menyediakan sumber makanan, tempat berlindung, maupun lokasi berkembang biak yang cukup bagi berbagai spesies.

Karena itu, upaya penghijauan di sekitar proyek energi perlu mempertimbangkan keragaman spesies dan kualitas habitat, bukan hanya jumlah atau luas tutupan vegetasi.

Peneliti Tidak Menolak Energi Terbarukan

Huiming Zhang, penulis utama penelitian dari Nanjing University of Information Science & Technology, menekankan bahwa pesan utama penelitian bukanlah meminta China memperlambat transisi menuju energi terbarukan.

Sebaliknya, pembangunan energi surya perlu dilakukan dengan memasukkan pertimbangan ekologis sejak tahap perencanaan.

Pendekatan tersebut penting karena kebutuhan energi bersih akan terus meningkat. Jika proyek hanya mempertimbangkan potensi produksi listrik tanpa memperhitungkan kondisi lingkungan di lokasi pembangunan, konflik dengan habitat alami dapat semakin besar.

Dengan kata lain, tantangannya bukan memilih antara energi terbarukan dan konservasi, tetapi menemukan lokasi dan metode pembangunan yang memungkinkan keduanya berjalan bersama.

Nilai Ekosistem Perlu Masuk dalam Perhitungan Ekonomi

Yuanning Liang, peneliti dari Universitas Peking, menambahkan bahwa penelitian mengenai energi terbarukan ke depan perlu melihat dampak biodiversitas secara lebih luas.

Menurutnya, perubahan jumlah dan keragaman burung perlu dikaitkan dengan jasa ekosistem dan nilai konservasi.

Pendekatan ini penting karena ekosistem memberikan berbagai manfaat yang tidak selalu terlihat dalam perhitungan ekonomi proyek. Jika kehilangan habitat dan biodiversitas tidak diperhitungkan, analisis biaya dan manfaat sebuah proyek energi berpotensi tidak menggambarkan biaya sosial yang sebenarnya.

Dengan memasukkan nilai ekosistem ke dalam perencanaan, pengambil kebijakan dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai manfaat energi bersih sekaligus konsekuensi lingkungannya.

Pemilihan Lokasi Menjadi Faktor Penting

Berdasarkan temuan penelitian, para ilmuwan menyarankan agar proyek panel surya berskala besar ditempatkan di lokasi dengan konflik ekologis yang lebih rendah.

Penilaian lingkungan juga perlu dilakukan secara menyeluruh sebelum pembangunan dimulai. Wilayah yang memiliki habitat penting atau tingkat keanekaragaman tinggi perlu mendapat perhatian khusus.

Pembatasan perubahan fungsi lahan produktif yang memiliki nilai ekologis juga menjadi salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan.

Dengan strategi tersebut, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya tetap dapat dilakukan tanpa mengabaikan kebutuhan untuk menjaga habitat berbagai spesies.

China Mengejar Target Netral Karbon

China memiliki target mencapai netralitas karbon sebelum 2060, sehingga energi surya menjadi salah satu komponen penting dalam strategi transisi energinya.

Besarnya ekspansi tersebut terlihat dari luas area yang digunakan untuk instalasi panel surya. Pada 2024, area panel surya di China diperkirakan mencapai 4.520 km², atau kurang lebih setara dengan luas Rhode Island di Amerika Serikat.

Skala tersebut menunjukkan betapa cepatnya perkembangan energi surya di negara tersebut. Namun, semakin besar pembangunan energi terbarukan, semakin penting pula memastikan bahwa ekspansi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan.

Mencari Titik Seimbang antara Energi dan Alam

Temuan penelitian ini memberikan perspektif baru mengenai tantangan transisi energi. Energi surya memang memiliki peran penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan menekan emisi karbon. Namun, pembangunan infrastrukturnya tetap dapat memberikan tekanan terhadap lingkungan apabila dilakukan tanpa perencanaan ekologis.

Karena itu, keberhasilan transisi energi tidak cukup hanya diukur dari berapa banyak kapasitas panel surya yang berhasil dibangun atau seberapa besar emisi karbon yang berhasil dikurangi.

Aspek lain seperti kualitas habitat, keanekaragaman spesies, serta nilai jasa ekosistem juga perlu menjadi bagian dari pengambilan keputusan.

Pada akhirnya, energi bersih dan konservasi lingkungan tidak harus menjadi dua kepentingan yang saling bertentangan. Pemilihan lokasi yang tepat, penilaian lingkungan yang komprehensif, serta perlindungan terhadap biodiversitas dapat membantu menciptakan pembangunan energi surya yang lebih berkelanjutan.

Inilah inti dari “green dilemma” yang disoroti penelitian tersebut: transisi menuju energi bersih harus dilakukan bukan hanya untuk menyelamatkan iklim, tetapi juga dengan memastikan ekosistem yang menopang kehidupan tetap terlindungi.